MEMAKNAI SUMPAH PEMUDA DI ERA KEKINIAN


Bila kita mengingat kembali sejarah perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari lika-liku dramatika yang sangat luar biasa. Tenaga, pikiran, darah, waktu dan jiwa telah di kerahkan para pejuang untuk mencapai keinginan dan tujuan bersama yakni kemerdekaan. Kemerdekaan yang diperjuangkan oleh mereka yang peduli akan maju dan berkembangnya bangsa, yang merasakan betapa pedih dan pilunya kehidupan tiga abad yang lalu di masa penjajahan, serta mereka yang tahu bahwa siapa lagi yang harus mempertahankan wilayah NKRI selain para pejuang, penggerak, dan pelopor bangsa yaitu para pemuda Indonesia.
Untuk memaknai perjuangan yang telah mereka dedikasikan kepada bangsa, hal ini dapat kita tunjukan dalam bentuk pengabdian kepada Indonesia agar penjajahan tersebut tidak terulang kembali. Bukan dalam bentuk kekejaman kolonial Belanda, tetapi kekejaman yang timbul dari bangsa itu sendiri.
Sekilas kita renungkan perjuangan para pemuda Indonesia, berawal dari pertemuan antar organisasi pemuda tahun 1920. Saat itu mereka belum menemukan solusi yang tepat karena masing-masing dari mereka berbeda dalam segi landasan pemikiran dan sudut pandang. Latar belakang pergerakan para pemuda di mulai pada sebuah Kongres Pemuda  yang di laksanakan tanggal 15 Nopember 1925. Pertemuan tersebut membahas mengenai panitia pelaksanaan kesepakatan bersama.
Pada tanggal 30 April 1926 Organisasi Pemuda berkumpul untuk melaksanakan rapat Kongres Pemuda I. Hasil kongres tersebut memuat beberapa dasar-dasar pemikiran yakni kemerdekaan Indonesia merupakan cita-cita bersama seluruh pemuda bangsa, serta seluruh organisasi kepemudaan bertujuan untuk menggalang persatuan  para pemuda.
Setelah itu mereka menyelenggarakan kembali Kongres Pemuda ke II pada tanggal 27 sampai 28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta).  Perjuangan mereka saat itu tidaklah mudah. Pada saat kongres ini berlangsung, terjadi sebuah insiden yaitu pemimpin rapat tidak dapat diperkenankan menyebutkan kemerdekaan Indonesia. Mereka merasa dipersulit dan banyak diantara mereka yang dipenjara juga diasingkan ke daerah terpencil.
Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan hari terakhir Kongres Pemuda II yang menghasilkan keputusan yakni cita-cita akan ada “Tanah air Indonesia”, “Bangsa Indonesia” dan “Bahasa Indonesia”. Maka tercetuslah sebuah rumusan Sumpah Pemuda yang di tulis Moehammad Yamin pada selembar kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres pemuda sebagai utusan kepanduan. Sambil berbisik kepada Soegondo “Ik heb een eleganter formulering voor de resolitie” yang artinya (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan kongres ini) yaitu sebuah ikrar yang di beri nama Sumpah Pemuda. Kemudian Soegondo membubuhi paraf setuju pada selembar kertas tersebut, yang diteruskan kepada yang lain untuk menyetujui dan memberi paraf juga. Lalu pada akhirnya dibacakanlah ikrar Sumpah Pemuda tersebut oleh Soegondo dan kemudian di jelaskan oleh Moehammad Yamin.
Istilah “Sumpah Pemuda” sendiri sebenarnya tidak muncul dalam putusan kongres tersebut, melainkan diberikan setelahnya. Berikut ini adalah bunyi “Sumpah Pemuda”  sebagaimana telah tercantum pada prasasti di dinding Museum Sumpah Pemuda.
         “ Pertama :
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe
bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedua :
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga :
Kami poetra dan poetri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.    “     
                                                             
Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap “Perkumpulan Kebangsaan Indonesia” dan agar disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka perkumpulan-perkumpulan. Sumpah pemuda ini adalah wujud pembuktian peran penting pemuda sebagai komponen bangsa yang menentukan arah dan kesinambungan perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai cita-cita kemerdekaan.  Peristiwa Sumpah Pemuda juga semakin mempertegas bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar yang sanggup mereduksi  perbedaan berbagai unsur bangsa mulai dari etnik , agama, ras, dan latar belakang sosial budaya. Dan yang paling utama adalah fakta para pemuda menunjukan kepeloporan yang luhur serta wujud jiwa pengorbanan yang tinggi dengan  menghilangkan ego berbagai latarbelakang demi tercapainya kepentingan yang lebih tinggi   yaitu terwujudnya persatuan nasional.
Berlangsungnya peristiwa  sumpah pemuda ini  tidak terlepas dari faktor pendorong salah satunya faktor internal, pemuda memiliki semangat kepedulian yang didasari oleh jiwa besar  senasib sepenanggungan menghadapi kekejaman penjajah yaitu  diwujudkan dengan adanya komitmen untuk mempersatukan organisasi pemuda kedaerahan yang di pelopori oleh pemuda Jawa Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, jong Ambon, Jong Islaminten Bond, dan Sekar Rukun  secara formal melaksanakan kongres pemuda yang pertama di Jogya tahun 1926, dan puncaknya kongres pemuda ke II dilaksanakan di Jakarta pada tahun 1928 dengan Ikrar Sumpah Pemuda.  Maka tidak di sanksikan lagi dalam sejarah perjungan bangsa bahwa Sumpah Pemuda sebagai   momentum penegas perjuangan kesadaran Nasional yang sudah dirintis dr Sutomo dengan organisasi Budi Utomo Tahun 1908  mewujudkan persatuan bangsa dalam rangka mencapai kemerdekaan. 
Di zaman yang modern ini kata penjajahan mungkin sudah terhapuskan. Namun pada kenyataannya masyarakat bangsa kita masih terjajah dengan hal yang membuat pola pikir kita semakin rendah. Sosok pemudalah yang dijadikan acuan tonggak kemajuan bangsa. Pemuda ini diibaratkan sebagai sebuah nahkoda kapal yang mengarahkan arah tujuan negara selanjutnya.
Di era globalisasi saat ini bukan lagi kita memperjuangkan kemerdekaan bangsa  yang sesungguhnya dengan senjata, dengan peperangan. Tetapi para pemuda zaman sekarang seyogiyanya dapat memperjuangkan sosok para pejuang muda terdahulu dan tidak meninggalkan sejarah bangsa yang telah membesarkan nama bangsa Indonesia.
Dalam memaknai Sumpah Pemuda di era modern saat ini, bukan saatnya lagi kita terpuruk dengan apa yang ada di depan mata kita. Tantangan kehidupan di masa sekarang sudah  harus kita genggam dan kita pastikan mampu meraih apa yang telah bangsa ini cita-citakan sebelumnya. Bukti nyata yang bisa kita lakukan adalah prestasi dan pengabdian kepada negara. Lalu akankah kita masih berdiam diri dalam memaknai Sumpah Pemuda di era kekinian ini? Semua pilihan ada pada tangan kita, tergantung kemauan dan tekad kita apakah masih sama seperti para tokoh pemuda terdahulu yang berjuang dengan prinsip  patriotisme membela negara tercinta Indonesia, atau hanya bisa duduk termenung melihat bangsa Indonesia dijajah secara tidak langsung.
Penulis: Nurul Khadijah. Anggota baru PERISCOPE angkatan 2016
MEMAKNAI SUMPAH PEMUDA DI ERA KEKINIAN MEMAKNAI SUMPAH PEMUDA DI ERA KEKINIAN Reviewed by Periscope 14 on Oktober 31, 2016 Rating: 5

Tidak ada komentar

Post AD

home ads